Berkat ketekunan dan kesabarannya, kini di saat harga minyak yang mahal, ia pun menerima berkahnya. Minyak curah dari biji klenteng buatan Sukarno mengalami peningkatan pemesanan.
Bahkan Sukarno harus kewalahan dengan banyaknya pesanan yang masuk.
Baca Juga:
Skandal Minyakita di Depok: Takaran Palsu dan Tak Pekerjakan Warga Lokal
Kendati banyak pesanan masuk, tidak lantas membuatnya panen rezeki. Pasalnya ia kesulitan mencari bahan baku dan peralatan yang juga cukup mahal.
"Sebenarnya banyak permintaan, tapi kan mesinnya cuma terbatas dua saja. Biji kapuknya juga setahun cuma berbuah satu kali. Jadinya agak susah cari bahan bakunya," keluh Sukarno.
Dalam proses produksi, Sukarno mengkaryakan delapan karyawan. Dia kini melayani permintaan minyak curah dari para pengepul dari berbagai wilayah di luar daerahnya. Mulai dari Magelang, Semarang, Solo hingga Jakarta.
Baca Juga:
Sidak di Solo, Menteri Amran Temukan MinyaKita ‘Disunat’ Lagi
"Kalau permintaan dari Jakarta, sehari bisa mencapai lima ton," tuturnya.
Menurut Sukarno, minyak goreng curah buatannya bisa langsung digunakan. Namun harus melalui proses penyulingan terlebih dahulu. Untuk menjadi minyak goreng premium, Sukarno biasanya bekerja sama dengan pihak kedua.
"Saya khusus melayani permintaan minyak curah saja. Jadi enggak usah diproses, yang ambil pengepul semua. Kalau ada yang mau kerja sama bikin minyak goreng, saya cuma suplai minyak curah saja bisa," sambung dia.