Ia berujar, sebelum menyala 24 jam, dirinya mengandalkan mesin genset jika ingin beraktivitas di siang hari. Rata-rata setiap bulan, Ia harus mengeluarkan biaya sebesar 800 ribu hingga 1 juta rupiah, cukup berat bagi dirinya yang hanya mengandalkan hasil berjualan makanan ringan di perbatasan.
"Dulu saya sering merasa sedih karena listrik di desa kami hanya menyala di malam hari, beda dengan kampung di negara tetangga yang terang-benderang. Tapi kini semuanya akan berubah. Kita juga tidak kalah dengan mereka," imbuh Syahrul bersemangat.
Baca Juga:
Potensi Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut hingga Lebaran, PLN Siapkan Langkah Antisipatif
Senada, Rumiati (53) warga Desa Temajuk, mengaku keberadaan listrik PLN yang telah menyala selama 24 jam, akan sangat membantu usaha pembuatan kue yang digelutinya sejak setahun yang lalu. Diakuinya, sebelum listrik PLN menyala 24 jam, Ia hanya bisa memproduksi kue di malam hari. Sementara kalau produksi dilakukan disiang hari dengan menggunakan mesin genset hasilnya tidak seimbang dengan biaya operasional, karena harus membeli BBM setiap hari.
"Menikmati listrik negara selama 24 jam merupakan impian kami sejak lama. Alhamdulillah, PLN telah mewujudkannya. Kini kami dapat beraktivitas dengan mudah di siang maupun di malam hari tanpa tergantung dengan mesin genset lagi," tutur Rumiati.[ss]